Tidur dan Bandrek

Suatu kejutan terjadi, tubuh ku seperti jatuh dari bangunan menjulang tinggi, rasanya begitu lama jeda waktu antara atas ke bawah menuju jatuh, “dekk” aku terbangun kembali, lega rasanya ternyata aku tidak jatuh pada kenyataannya, lalu aku tarik kembali bantal yang sudah terpental jauh dari jarak tidur ku, dan kembali ku pejamkan mata berlahan, rasanya damai sekali tak ada hal yang mengejutkan seperti awal tidur. Tak ada yang mesti ku ceritakan pada bagian ini, mimpi ku indah akan tetapi setelah bangun aku lupa mimpi apa, dan sialnya ketika ku coba untuk mengingat mimpi itu adalah hal yang indah sehingga aku bisa tersenyum, mimpi apa, mimpi yang aneh bisa membuat lapig tersenyum ketika bangun dari tidur.

Lapig mencoba meraba-raba mata yang masih tertutup, dia tersenyum begitu lebar, mona dan nade heran dengan ulah lapig, “habis mimpi apa? Pig”, nade bertanya dengan penuh penasaran, lapig menjawabnya dengan senyum yang semakin lebar, sungguh peristiwa yang aneh terjadi di kandang babi, lalu mona mencoba menawarkan air mineral, “ini pig, minum dulu!”, lalu lapig meraihnya, meminum dengan pelan, akhirnya monan penasaran, “mimpi apa sih?”, sahut mona dengan nada yang ingin tahu, lapig tersenyum lebih lebar, dan mulai mengeluarkan suara yang aneh, mirip orang tertawa setelah menemukan dirinya hidup, mona mulai emosi, sisa air dalam gelas diraih mona lalu menyiramkan ke muka lapig, lalu lapig berhenti tersenyum dan mulai membuka mulut, “aku mimpi minum air”, jawab lapig lalu dia tertawa.

Suasana kandang babi yang semula hening kini ramai kembali, mona dan nade mengisi sebagian besar kebisingan di kandang babi, hari mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala di sekitar kandang babi, anak-anak kecil sudah masuk ke rumah, pedagang bagian malam sudah bertebaran, seorang jualan bandrek dan bajigur, melintas di depan kandang babi, nade membeli, minuman hangat tersebut.

“Mang, bandrek satu!”, berkata nade kepada tukang dagang tersebut, dengan mimik wajah yang datar tukang dagang mulai meracik hasil karya tangannya yang sudah bertahun-tahun, mona dan lapig keluar dari kandang babi, mereka ingin membeli tetapi menyadari uang dalam kantong celana tidaklah memadai, tanpa diminta nade berkata kepada tukang bandrek, “mang, bandreknya dua lagi”, kini tukang bandrek tersebut tersenyum, giginya hanya tersisa beberapa saja, “siap, dek”, sungguh lama tukang bandrek tersebut membuatnya.
Penghuni kandang babi kembali masuk ke dalam, mereka meminum bandrek yang rasanya hangat di tenggorokan, suasana kandang babi malam ini hangat, nade mulai menceritakan bagaimana dia memperoleh uang yang bisa membeli tiga bandrek sekaligus, pada kenyataannya nade menemukan uang di saku celana yang tempo hari di pinjam oleh mona, tanpa basa-basi mona langsung mengingat uang tersebut berasal dari mana, “wah, uang dapet nemu tuh, tapi belum dipake”, lapig penasaran dan bertanya kepada mona, “nemu dimana kau”, di atas rak sepatu, “wah, itu uang yang aku ketemukan di pinggir jalan, lalu ku taruh diatas rak sepatu.

Hangatnya bandrek mulai menjelajahi bagian usus, mengalir begitu lambat sehingga rasanya bisa merata dari tenggorokan hingga ke perut, dari semua kejadian menemukan uang tak ada sedikitpun yang mereka sesali, ketika bisa menikmati secangkir bandrek, akan tetapi nade penasaran kapan lapig menemukan uang itu, “pig, kamu nemu uangnya pas hari apa?”, lapig menjawab dengan enteng, “hari senin tepatnya.”. lapig pun bertanya kepada mona, “mon, kalau kamu nemu uangnya hari apa?”, mona menjawab sedikit berpikir, “ohh, iya hari selasa.”, tidak mau ketinggalan akhirnya mona bertanya kepada nade, “de, kamu nemu pas hari ini?”, nade menjawab, “barusan aku nemu ketika mau menggarok selangkangan dan menemukan uangnya”.

Hari ini tepatnya hari rabu, dimana bisa disebut rabu santai, mata kuliah yang tidak terlalu padat, jika mau bolos sangat mudah, menitip absen adalah pilihan yang tepat jika dosen tidak hadir atau jika dosen hadir, masuk sebentar lalu keluar kembali dari ruang perkuliahan, bukan karena mereka malas, jadwal dari pagi hingga sore, mempunya jeda waktu yang cukup jauh sehingga menyebabkan suasana hati mereka tidak menentu, minuman bandrek satu per satu mulai habis dari ketiga gelas tersebut, sedangkan cuaca kembali dingin terasa di kandang babi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *