Orang di Sudut Bangunan

Jika ditanya ketika baru bangun tidur, terlintas di kepala adalah secangkir kopi dengan asap putih yang tipis dan senyuman manis dari bibir mu tanpa gincu, maka saya berjanji akan hidup dengan sukarela tanpa paksaan bunyi alarm yang sumbing dan ramalan cuaca yang kacau.

Selain hujan yang turun tanpa ada yang memohon, dan panas yang berkepanjangan, kebutuhan akan air bersih yang semakin hari sebagian orang susah untuk mendapatkannya, masih ada orang yang mengharapkan turun salju di tengah gurun pasir, dan berharap bunga berguguran di kutub utara, sebagian lainnya duduk di sudut bangunan penuh debu sambil menghisap rokok yang hampir habis sambil memikirkan kapan kopi yang terasa hambar ini akan habis.

Baca Juga:  (Cerpen) Tamu
Foto oleh Emre Can dari Pexels

Rasa pesimistik yang membuatnya tetap hidup, dan rasa takut akan kematian membawanya tetep bernafas di muka bumi, orang di sudut bangunan itu masih saja menghisap yang sudah habis, melihat dunia dengan penuh warna yang samar antara putih dan hitam, lebih tepatnya abu-abu seperti yang tersisa rokok dalam pandangannya sudah menjadi abu.

Sesekali melihat ke luar pintu ada beberapa orang sedang berbincang, hal yang ditunggu oleh orang di sudut bangunan adalah rasa sakit perut hingga melilit dan terasa lemas agar bisa tertidur lemas di atas lantai yang penuh dengan debu di sudut bangunan, pada akhirnya harapan itu terwujud terkapar beberapa jam dan tersadar bahwa dia terbangun, “sialan” kata yang pertama kali terucap olehnya, dan melihat secangkir kopi di depan matanya sudah dihampiri cicak dan kecoa, mungkin rasa kopi tersebut sudah tidak hambar lagi pikirnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *