rabu dan sabtu

Rabu dan Sabtu

Selain hari rabu dan sabtu adalah hari libur, setidaknya itu versi saya, kalian tidak boleh protes, sudah melebihi batasan bosan, terlalu lama di rumah, kegiatan hanya sebatas makan tidur dan ngopi.

Kadang-kadang membaca, hanya halaman depan lalu menutupnya, tidak ada yang menarik, masalah terbesar memang bagaimana mengelolah kebosanan, sudah mengikuti tips & trik agar tidak bosan di rumah saja, satu per satu dilakukan, dan nyatanya bosan itu selalu datang di waktu luang.

Hari selain sabtu dan rabu, melakukan aktifitas seperti layaknya orang tanpa tujuan, terjaga hingga malam, nongkrong di warung dekat rumah, atau menonton serial yang tak ada ujungnya, yang pasti kuota internet tiba-tiba limit saja.

Rumah terasa luas sekali, padahal tidak begitu besar banyak kamar kosong tidak berpenghuni, hanya ada saya dan ibu, bapak sudah lama pergi mendahului, sedangkan semua kakak sudah menetap dengan keluarga barunya, tinggal berdua.

Wabah virus corona membuat semua sekolah dan kampus diliburkan, kerjaan di kota rantau sebenarnya mencari ilmu tapi yang saya lakukan hanya ngopi dan nongkrong bersama adik kelas atau teman yang sama-sama belum lulus kuliah tahun ini.

Baca Juga:  Karena Hidup Itu Pilihan?

Suatu seketika ibu menelepon dengan sangat khawatir, menanyakan kapan pulang, terkejut mendengar ibu menanyakan kapan pulang? sebab tidak biasanya, libur masih jauh.

kapan pulang? sekarang pulang yah!

ibu menelepon

iya siap, besok pulang, tapi kirim uang dulu buat ongkos hehehe.

saya menjawab tanpa dosa

oke siap bos!

lalu ibu menutup telepon

Seorang ibu yang kesepian, setiap harinya mendengarkan berita dari radio, khawatir anaknya tidak baik-baik, waktu itu belum parah seperti sekarang virus corona menyebar, kebetulan perkuliahan sudah diliburkan.

Keesokan harinya pulang, hal yang pertama ketika pulang kampung adalah badan menjadi panas dingin karena perbedaan cuaca yang cukup jauh, sudah ada kakak kumpul di rumah.

Tidak ada istilah salaman terlebih dahulu, langsung disuruh mandi dan menyimpan pakaian kotor, ibu sangat khawatir waktu itu, padahal saya tidak hobi kelayaban kesana kemari, hanya ngopi di kosan atau di kosan teman.

Tinggal di rumah sama dengan liburan, bedanya setiap hari rabu dan sabtu saya bergantian dengan kakak mengantar ibu ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah, sudah lama ibu berkunjung ke rumah sakit setiap rabu dan sabtu, kurang lebih hampir lima tahun.

Baca Juga:  Suka kepikiran kosong

Setiap malam tidak lupa mampir ke warung kopi dekat rumah untuk menghilangkan penat, ada yang berbeda liburan kali ini, bertemu dengan teman-teman lama, seorang teman sd yang biasanya tidak terlihat kini terlihat kembali.

widih, kemana saja baru keliatan?

kawan lama berbasi basi sambil memesan es jeruk

di rumah saja

saya memesan kopi

Setelah memesan kopi dan es jeruk, kawan lama bercerita panjang lebar dan berkeluh kesah, sebab dia dan beberapa teman waktu sd harus dirumahkan dari pekerjaan di kota rantau.

Perasaan saya bercampur aduk antara senang dan sedih, senang karena bisa bertemu dengan kawan lama, sedih mendengarkan kabar bahwa hampir semua teman sd yang merantau di ibukota harus dirumahkan.

Tidak terasa sudah sangat malam dan warung kopi harus tutup, mangaep si tukang kopi terlihat pusing istrinya terus memanggil meminta jatah, sedangkan anak terkecilnya menangis meminta mainan, warung kopi akhirnya tutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *