cerita

Miliknya, Milikku

Menikmati masa-masa bulan madu dengan yang dicinta, dunia terasa hanya milik berdua. Pagi hingga malam dihabiskan bersama, hubungan hangat belum dibanjiri masalah.

Rasa sayang menjadi abu saat nafsu perlahan menyerbu. Rautnya tak lagi sama, sentuhannya tak selembut sore itu. Bibirnya menyentuh kulitku, tangannya erat memeluk tubuhku.

Hangat dan nyaman dalam pelukannya, terasa asing saat benda keras menggesek selangkanganku. Celana dalamku mulai basah, terasa ujung miliknya pun sama. “Lepas semuanya, aku ingin merasakan milikmu!”.

Terbaring di ranjang tanpa sehelai kain di tubuh, terasa berdenyut liang senggamaku. Batangnya mengeras dan berdiri tegak, ia mengelusnya sambil menatapku. Tak terasa tangannya kini menggenggam rambutku.

Baca Juga:  Bulu Transparan

Tanpa kata-kata ia menyodorkan kemaluannya di bibirku. Kujilat perlahan, menggodanya, kecupan lembut membuatnya semakin tak tahan. Genggaman di rambutku semakin kencang, kini kejantanannya memenuhi mulutku.

Menyodok kerongkongan membuatnya mengerang. Kemaluanku kian basah, ingin juga merasakan sentuhannya. Terasa kedutan dan hangat yang menjalar di dalam mulutku.

Kutelan itu semua, kujilat bersih yang masih tersisa. Nikmatku adalah merasakan nikmatnya, kepuasanku cukup dengan melihat puasnya. Masih keras batangnya, sambil tersenyum ia menuntunku untuk duduk di pangkuannya.

Terasa licin dan hangat, batangnya menggesek daerah sensitifku. Menggoyangkan pinggul, merasakan ujung kemaluannya mencium liangku. Rasa takut perlahan luluh, ia menguasai tubuhku.

Jarinya perlahan masuk dalam lubangku, tangan lainnya menutup mulutku. Menari-nari, menusuk hingga tubuhku mengejang. Jari kedua memaksa masuk, terasa sakit saat meregang. Tak sebanding dengan ukurannya, sakit kali ini tak seberapa. Semakin lama gerakannya semakin cepat, lengket dan basah jarinya kini singgah di lidah.

Baca Juga:  Malam Pertama

Perlahan ujungnya menusuk dalam liangku, rasa tak nyaman dan nikmat menjadi satu. Memaksa masuk, sempitku menambah nikmatnya. Perih, sesak, nikmat, entah apa yang harus dirasakan.

Rasa yang mengundang candu, membuat rindu semakin menyiksa ketika jauh. Sentuhannya yang selalu dinanti saat bercumbu, seutuhnya memiliki diriku.

Photo by John Rocha from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *