angin.jpg

Menjemput Angin

Selagi masih ada tetesan embun dan kecoa yang sedang ngepot dipojokan lemari dekat pakaian kotor lapig masih menanti hujan dari tahun lalu, belum ada tanda-tanda mereka akan datang.

Lemari tanpa pintu, bukan juga berlapis kaca memamg tidak ada pintu sejak dibuat oleh tukang, sengaja dibiarkan terbuka bebas sirkulasi udara menjadi bebas, angin bebas keluar masuk.

Ternyata bukan hanya angin yang singgah tetapi kecoa terbang seperti nuklir dan tikus balap racing, lemari itu bagaikan tempat bermain hewan yang dekat dengan manusia sehari-hari.

Dimana ada tikus disitu ada kecoa, tidak lupa cicak kadang terpeleset dari tembok sebab terlalu licin tidak ada cat yang menempel hanya olesan semen lembut, sempat suatu malam ketika lapig hendak ingin minum kopi, cicak terpeleset lalu jatuh tepat di dalam gelas.

Om tolong om keluarkan saya dari gelas kopi yang bau ini.

cicak mulutnya nga-ngap

Katika lapig ingin meminum kopi tersebut, mata saling berpandangan antar lapig dan seekor cicak yang buntutnya sudah buntung, cukup lama mereka saling tatap akhirnya benar kata seorang pujangga dari mata turun ke hati.

Baca Juga:  Kenyataan Yang Menjadi Mimpi Di Siang Bolong

Malam itu nyawa cicak ada ditangan lapig, air panas di termos siap dituang kembali, namun karena lapig terlalu kasihan terhadap cicak buntung itu, akhirnya dibiarkan pergi dengan badan penuh ampas kopi.

Cicak albino berubah menjadi sawo matang, namun memang yang namanya umur tidak ada yang tahu, ketika sedang istirahat karena terlalu capek lari cicak itu digerumuni oleh banyak semut.

Malam itu pukul sebelas malam cicak meninggal dunia, jasanya digotong oleh ribuan semut, sedangkan lapig masih menunggu hujan dan hendak menjemput angin.

Tepat pukul jam dua belas malam, angin kencang datang segerombolan semut yang menggotong jasad cicak itu terhempas kencang, akhirnya ribuan semut meninggal dunia karena terlempar oleh angin kencang.

Baca Juga:  Hari Imunisasi

Setelah itu baru hujan turun tengah malam, lapig bisa tenang menikmati secangkir kopi yang sedikit asam karena masih ada bekas bau badan cicak.

Kecoa terbang dan tikus balap kini berlelahi begitu hebat, lemari tanpa pintu menjadi ajang arena tarung, tumpukan baju bersih dan kotor bercampur tidak karuan.

Namun lapig tidak begitu peduli atau memang tidak terdengar suara ribut perkelahian antara kecoa terbang dan tikus balap, sebab suara hujan begitu bising ditambah atap rumah masih menggunakan seng yang teyeng, suara “kerotak kerotak”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *