mancing sore hari

Memancing Matahari di Waktu Sore

Wildanfauzy.com – Mondar mandir, lapig kebingungan siang hari masih panas, berdiam diri di kamar, matahari sedang manja, dia telanjang percis di tengah langit, sedangkan lapig mencoba mendinginkan badan, terjun di bak mandi.

Minum es hanya mampu bertahan beberapa menit, tenggorokan kering lagi, bibir pecah-pecah, mata kering, niatnya siang ini mau memancing di balong pak sugeng.

matahari sialan, saya sudah hitam tambah hitam saja seperti pantat ban dalam.

lapig menggerutu

Pada akhirnya lapig memutuskan pergi memancing, percuma rasanya jika harus ngadem di kamar mandi, kebetulan sabun sudah habis, tengahnya bolong-bolong.

Hanya mengenakan kolor lambang bola klub inggris, lapig pergi ke tempat pemancingan sambil menenteng tongkat terbuat dari fiber, sebelum sampai di tempat tujuan, mencari cacing di pekarangan om bram.

Tanah kering tidak terlalu banyak cacing tinggal disini, hanya ada ular berkepala botak, mulutnya kecil sedang ngadem di bawah pohon durian, lapig tidak tega untuk dijadikanya umpan pancing.

ehh ada om bram.

lapig sedikit malu

ngapain pig, siang-siang gini di pekarangan saya

om bram datang hanya menggunakan kaos kutang

ini om, lagi nyari cacing buat makan

jawab lapig

ohh yaudah lanjutkan pig, tadi ular om yang kepalanya botak lepas, liat enggak?

om bram bertanya sambil melihat kiri dan kanan

itu om di bawah pohon durian

lapig menunjuk pohon di belakang nya

Tanpa pikir panjang om bram mengambil ular berkepala botak itu, lalu menaroh di dalam kolor, terlihat om bram sedang terburu-buru, istrinya memanggil dari belakang rumah.

Pak, ularnya bapak ketemu belum? cepet kesini

istrinya berteriak

Iya bu, udah ketemu, ini bapak dimasukin kolor.

jawab om bram sambil berlari menuju istrinya

Kulit lapig semakin gosong, dan sia-sia mencari cacung di pekarangan om bram, lapig akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke tempat pemancingan tanpa membawa umpan, berharap bertemu cacing yang tersesat di pinggiran jalan.

Baca Juga:  (Cerpen) Tamu

Setelah sampai di tempat pemancingan, sudah banyak bapak-bapak sedang memancing sambil minum kopi hitam dan menghisap rokok kretek sejuta umat.

Karena kesal tidak mendapatkan umpan, dan tempat untuk memancing, lapig meluapkan kekesalannya dengan menendang ember yang berisi ikan air tawar milik bapak yang berkumis tebal.

Keadaan tempat pemancingan yang semula damai dan tentram karena orang-orang fokus memancing tiba-tiba ramai terjadi perkalahian antara lapig dan bapak berkumis tebal.

Tidak ada orang yang membela lapig, basah kuyup dan terjerumus ke balong akibat tendangan dari bapak berkumis, lapig pulang ke rumah dengan tangan kosong.

Badan basah kuyup, akhirnya lapig memancing matahari sambil mengeringkan badannya yang bercampur lumpur, berjemur sampai matahari itu tenggelam, pulang magrib yang didapat adalah badan yang semakin gosong dan bau lumpur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *