hujan dan jendela.jpg

Kodok Masuk Tanpa Permisi

Hujan di tengah musim kemarau yang tidak pasti adalah sebuah keajaiban, datang tiba-tiba tanpa ada kabar hujan datang di sore hari beserta rombongan kodok yang malang.

Apa yang dilakukan ketika hujan turun? kembali ke kasur, walaupun hujan cuaca di kamar masih saja panas, jendela dibuka lebar-lebar, menaruh asbak dari tatakan gelas, keluar sebentar untuk membuat kopi panas.

Jendela terbuka lebar berharap udara yang dingin masuk ke kamar yang hampa dan sepi ini, bau tanah kering bercampur tai ayam dan angsa, menunggu beberapa menit agar air matang, menunggu hingga suara peluit keluar dari teko.

Sudah sepuluh menit terbuang menunggu air matang, sengaja masak air satu teko penuh agar termos tanpa tutup bisa terisi penuh, buntelan plastik yang padat menjadi alternatif mengawetkan air dalam termos.

Sial, perasaan ini sering sekali salah, perasaan tadi siang masih melihat satu sachet kopi diatas lemari es, setelah diselidiki hanya sampah bungkus kopi, terpaksa harus keluar rumah untuk membeli kopi, sebab air sudah tanggung matang.

Menggunakan payung dengan merek bank rakyat jelata, menuju warung untuk membeli berlian serbuk, untung masih buka walaupun sepi pengunjung karena hujan besar dan angin kencang.

mang, beli kopi satu!

berteriak dari balik pintu warung

Okesiap, diseduh enggak?

tukang warung palugada menjawab

Iya mang sekalian diseduh.

jawab lelaki sialan

Bergegas kembali ke rumah, tidak sabar untuk menikmati kopi sachetan, menuju kamar, rupanya tidak sia-sia membuka jendela lebar-lebar, udara segar masuk ke seluruh ruangan.

Duduk dipinggiran jendela kamar, memandang tembok rumah tetangga yang renggang, buah mangga muda jatuh tidak kuat menahan dingin yang mencekam.

Seorang lelaki malang, sendirian menikmati kopi dan mulai menghisap rokok bekas kemarin, melamun memikirkan hari esok apakah masih seperti ini, diseberang kodok bernyanyi saling bersautan.

Tidak ada motor yang lewat di jalanan depan rumah, seketika cuaca sepi tidak ada orang yang mengobrol di luar, hujan mulau reda tetapi angin tetap kencang.

Mulai melamun semakin dalam memikirkan nasib negara yang menggunakan slogan maju tapi nyatanya diam di tempat, tidak ada perkembangan yang mangarah ke depan, hanya kabar hutan yang ditebang untuk membuat jalan.

Tiba-tiba kodok tanpa merasa mempunyai dosa loncat dari pagar rumah tetangga ke jendela kamar lelaki malang, berteriak sekencang-kencangnya lelaki itu sangat ketakutan oleh kodok hijau.

Semalaman tidak berani masuk kamar, mengungsi ke warung sampai tengah malam, mata sudah sangat ngantuk, kembali ke kamar kodok itu menunggu di kakar lelaki malang.

Mereka saling pandang selama lima menit, hingga akhirnya kodok itu merasa bosan melihat wajah lesu seorang lelaki yang malang.

Loncat keluar kamar tanpa permisi, pada akhirnya lelaki malang itu kembali sendirian, jendela ditutup rapat-rapat, bahkan seekor kodok tidak sudi menemani lelaki malang itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *