Kereta Jalur Selatan Jawa dan Sesuatu di Jogja

Kereta jalur selatan selalu menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan, selain udara yang dingin di pagi buta, semalaman saya tidak bisa tidur, akibat organ jantung yang terus saja berdebat sejak kemarin, apa yanng telah saya lukakan dengan jari-jemari, hanya Tuhan dan jajarannya.

Sudah habis beberapa cangkir kopi agar tidak tertidur malam ini, bermain game online dengan teman, melihat tranding video di youtube yang menggemaskan, sesekali melihat jam apakah sudah pukul empat pagi, seorang teman sudah tertidur pulas, sebelumnya sudah berjanji akan mengantar ke stasiun kereta terdekat.

Hal yang paling saya hindari ketika tinggal di kota Bandung adalah mandi di pagi buta, bukan apa-apa, sudah biasa dengan udara panas atau dingin, akan tetapi mandi jam empat pagi adalah percobaan untuk melawan diri sendiri.

Baca Juga:  Tukang Rebahan Modal Bacot

Sialnya teman saya belum saja bangun, ketika sudah bangun sepertinya dia melanjutkan tidur di kamar mandi, “buang air besar butuh waktu setengah jam.” alasan teman saya, menyalakan sepeda motor, badan sedikit menggil, waktu sudah menunjukan jam setengah lima pagi, sedangkan keberangkatan kereta jam lima pagi.

Lalu lintas di kota Bandung memang terkenal dengan macetnya, butuh setengah jam untuk sampai di stasiun Kiaracondong, jika melihat di aplikasi maps waktu yang ditempuh hanya lima belas menit, namun akibat macet dan menyetir motor sambil mengigil, sudah sepatutnya untuk tidak mempercayai aplikasi maps dan ramalan cuaca.

Hanya tersisa waktu satu menit agar kereta berjalan meninggalkan stasiun, saya berlari dan memasuki gerbong paling belakang, setelah melihat tiket, saya mendapatkan kursi penumpang di gerbong pertama, berjalan menelusuri gerbong memang melelahkan, tetapi saya bersyukur tidak ketinggalan kereta.

Baca Juga:  Tidak Ada Yang Membosankan Selain Bosan Itu Sendiri

Niat awal akan tidur di kereta sia-sia, pemandangan kereta Bandung-Jogja jalur selatan jawa memang memaksa mata saya untuk tetap terbuka, dan jantung saya yang masih saja berdetak dengan kencang, tidak tahu sekencang apa ketika sampai di Jogja, hanya Tuhan dan jajaranya yang tahu