Beranda » Cerita Pendek » Jangan Membaca Buku

Jangan Membaca Buku

  • by
  • 2 min read

“Bu, ini berapa semuanya?” ujar lapig kepada tukang surabi, “ohh, udah dibayar semua dek, sama teteh yang tadi” tukang serabi memjawab dengan nada begitu pelan, “ini buat ibu saja” lapig berbicara dengan bibir sedikit tersenyum, “terima kasih dek”, tukang serabi pun tersenyum kembali.

Lapig mulai tertidur sambil tersenyum, lalu mengeluarkan air liur dari ujung bibir membasahi bantal berwarna abu-abu, suara adzan subuh berkumandang saling bergantian dari satu masjid dan masjid lainnya, pengguni kandang babi sudah terlelap semua, tetapi nade terbangun lebih dulu karena tidur lebih awal, menuju kamar mandi, membuang air kecil, lalu tertidur kembali.

“Jangan pernah membaca buku,” suara itu membisiki kuping lapig ketika tertidur pulas, lapig langsung terbangun seketika, mengambil air minum, tenggorokannya kering seperti habis lari maraton, sambil mengatur napas yang tidak teratur, lapig coba mengingat siapa yang membisikan kalimat tersebut karena ingatan mimpi cepat hilang, ketika napas sudah teratur dan detak jantung sudah kembali normal, lapig kembali menarik bantal, mencoba menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. “Buku adalah pelampiasan nafsu birahi, produk pelacuran pikiran.

Buku membicarakan apa saja, buku membangkitkan imajinasi dan menciptakan gangguan yang tak berguna. Ada saat kita memiliki buku-buku sejarah yang baik, kisah-kisah yang ditulis oleh orang-orang sunyi tentang masa lalu. Namun sekarang setiap buku ingin membuka tabir jiwa manusia, dia akan jauh lebih baik hidup dalam rahasia, dalam daging, dan dalam jiwa jika dia ingin melindungi diri dari keingintahuan yang terlalu besar dan dari imajinasi yang menghancurkan keimanan. Hanya dalam usia tua buku tidak berpengaruh terhadap seseorang manusia.” (pecundang;57).

Lapig benar-benar terbangun dengan badan penuh keringat, kepala sedikit pening kini dia sedikit ingat dengan buku karangan gorky, lalu dia menuju kamar mandi untuk membasuh muka, menuju keluar kandang babi dan menyadari bahwa matahari sudah hampir di atas kepala, “sudah siang ternyata,” lapig berbicara pada dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *