Beranda » Cerita Pendek » (Cerpen) Makan Bersama

(Cerpen) Makan Bersama

Musim kemarau yang panjang membuat sebagian orang selalu mengeluh tentang kehidupan ini, suhu yang cukup membuat telor mata sapi tanpa harus menggunakan minyak dan gas untuk kalangan orang miskin, semua orang merindukan musim penghujan, selain udara yang sejuk, kekurangan air di sebagian wilayah membuat khawatir akan kekurangan air bersih untuk mandi dan minum.

Penghujung tahun selalu datang musim hujan, namun tidak tahun ini, musim hujan datang tidak tepat waktu, manusia sudah terlalu kesal akibat sikap hujan yang semena-mena, sebagian orang lagi merasa biasa saja, sambil menunggu cucian yang belum kering, menunggu sambil menyalakan kipas dan tiduran diatas lantai.

Hanya menghitung beberapa hari, tahun akan berganti, tetapi seorang lelaki masih muda dengan baju yang lusuh duduk di pinggiran tembok, dia memandang ke arah langit, tidak ada bayangan dari bintang, hanya ada beberapa hembusan angin masuk ke ruangan yang lembab.

Nade masih duduk bersendar di tepian tembok kamar kosan, tidak ada acara yang harus dihadirinya, atau sesuatu kegiatan yang membuatnya keluar dari kamar kosan, malam ini dia habiskan duduk termenung berharap bintang jatuh dan menimpa dirinya, tetapi hal itu tidak mungkin, hanya ada di pikiran nade.

Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, suasana semakin hening, hanya ada teriakan kecil dari seberang kosan, seorang perempuan yang menemui seekor kecoa yang tersesat di kamarnya, nade bisa menebak dari suara teriakan yang samar dari kejauhan, pendengarannya sangat jelas, bahkan suara yang ada di dalam perutnya terdengar dengan lantang.

Waktu yang tepat untuk makan malam adalah sebelum jam tujuh malam, hal tersebut tidak berlaku bagi nade, baginya waktu makan yang tepat adalah ketika ada makanan yang bisa dimakan di depan mata, nade sedang membayangkan ketika berada di rumah, menyantap makanan masakan ibu sehabis magrib, duduk bersama di tempat makan tanpa meja dan kursi.

Mendengarkan cerita dari salah satu anggota keluarga, makan hanya membutuhkan beberapa menit saja yang membuat lama adalah obrolan setelah makan, lalu nade tersadar bahwa itu hanya bayangan yang ada di kepalanya, sebab nade teringat perkataan bapaknya yang membuat nade enggak untuk makan bersama setelah magrib, sungguh tidak ada kata yang lebih menyakitkan hati nade, menyantap makanan dengan nikmat lalu terlontar perkataan yang membuat semua hal yang masuk ke perut ingin dimuntahkan seketika.

Akhirnya nade beranjak dari lamunan yang cukup lama, berdiri, meninggalkan tembok yang berdebu, ada bekas cat berwarna putih menempel di lengan dan baju, nade menuju kamar mandi untuk membasuh muka, dan udara semakin dingin, hampir dua jam nade melamun sambil bersandar di tembok, hari sudah berganti dan nade masih saja sama, melihat jam sudah hampir jam dua dini hari, nade mencoba tidur walau makan malam dia lewatkan.

Tanggal sudah berubah di penghujung tahun, sudah banyak penjual kembang api dan terompet berjajar di setiap lahan kosong pinggiran jalan, sama seperti penghujung tahun biasanya, tetapi hal yang tidak pernah diduga, hujan deras turun di subuh hari, sebagian orang bangun biasannya, tetapi sebagian lagi memilih menikmati suara hujan yang deras, dan tertidur kembali, mungkin sebagian daerah menemui musibah ketika hujan datang dengan tiba-tiba.

Nade lebih memilih, pilihan kedua yaitu terbangun karena suara hujan deras lalu tertidur kembali, kebanyakan orang berterima kasih kepada hujan yang sudah turun, hanya ada satu orang yang kesal, sebelum tidur mencuci baju dan menjemurnya ketika malam, sebab besok pasti matahari muncul dengan sinar teriknya, tetapi dugaannya salah besar, hujan deras datang menghampiri, tanpa ada penjelasan oleh ramalan cuaca, sebab ramalan cuaca sudah tidak dipercaya oleh orang yang kesal menunggu hujan.

Pagi kali ini hujan masih saja membasahi bumi, jam sudah seharusnya banyak manusia harus menyelesaikan kegiatan yang biasanya diselesaikan, suhu dibawah rata-rata pada biasanya, matahari tertutup awan hitam, udara sudah dipastikan dingin, tetapi hal tersebut adalah musibah bagi nade, kasur sudah menitip, tidak ada selimut, membuat nade menggigil pagi ini, melihat jam tidak banyak berubah, terasa melambat bagi nade.

Teriakan dari seorang wanita yang biasanya samar-samar terdengar kini tertutup oleh deranya hujan, pendegaran nade mulai tidak terlalu tajam, nade tidak bisa tertidur kembali, tepat sehari sebelum pergantian tahun, cuaca hampir di seluruh wilayah menemui hujan, terendam dan terpenuhi emosi yang mendalam, di ujung sana ada orang yang melamunkan hujan akan turun seharian, siang dan malam, dan berharap malam pergantian tahun masih terendam hujan.

Lamunan seorang di ujung sana mungkin saja terwujud, sebab do’a dari orang yang selalu menderita, mungkin sesekali do’anya terwujud, kasihan jika terus-terus menderita sepanjang hidupnya, matahari tetap bersinar seperti biasanya, teteapi awan hitam lebih dominan, sudah siang tetapi terasa masih subuh hari, ada beberapa kegiatan ekonomi yang berjalan, teteapi hanya beberapa saja yang melakukannya.

Warung kelontong dekat tempat tinggal nade tutup, nade terasa lapar yang amat sangat dalam, hampir seharian perut nade belum terisi oleh makanan, hanya beberapa gelas air yang masih tersisa dari tumpahan galon yang hampir habis, nade tidak terlalu miskin untuk ukuran manusia seumurannya, akibat terlalu lama melamun, makan pun terlewat, harus mengunjungi warung makan jauh di pinggir jalan utama, tidak ada warung membuka tirainya di pinggiran gang, penjual lebih sibuk menimati hujan, mungkin persediaan makanan masih banyak di lemari pendingin, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari ke depan.

Semua tetangga nade masih menyimpan sisa makanan, terdengar samar-samar, dari balik tembok, suara seseorang membuka kantong plastik, dan suara orang yang sedang mencuci beras, suara dispenser, beberapa obrolan basa-basi, rupanya pendengaran nade kembali tajam, rasa lapar kini menerjang di segala organ tubuh, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, badan menjadi lemas, penglihatan yang kabur, tetapi pendengaran yang semakin tajam, terdengar isi hatinya berbicara, “makan sekarang juga, nade!”.

Bangun dari rebahan, hujan masih turun, nade beranjak keluar dari kamar, tanpa menggunakan payung dan jas hujan, mulai berjalan menelusuri jalanan gang yang mulai tergenang oleh air, sudah bisa dipastikan semua kain yang menempel di badan nade basah kuyup, perjalanan cukup jauh jika harus ditempuh dengan sepasang kaki, dan tubuh yang lemas, panggilan hatinya menggerakan seluruh badan untuk menuju warung makan di pinggir jalan utama.

Makan dan minum adalah kebutuhan dasar semua makhluk hidup, namun manusia mempunyai cara sendiri untuk melakukannya, dari orang paling kaya sampai paling miskin di dunia tetap membutuhkan yang namanya makan, tidak peduli enak atau tidak, makanan termahal atau termurah di dunia, semuanya sama aja akan terbakar di dalam tubuh agar manusia bisa tetap hidup untuk hari selanjutnya, tetapi masih ada saja orang yang masih memikirnya besok makan apa, dari masa awal manusia di bumi sampai sekarang, kelaparan masih terjadi, tidak ada yang benar-benar tidak merasa kenyang, kelaparan nyata adanya.

Warung makan sudah hampir terlihat oleh pandangan nade, butuh beberapa langkah kaki untuk mencapainya, terbaca dengan jelas, papan nama “Warung Nasi Khas Sunda” dibalik rintik hujan, hanya ada beberapa orang yang singgah di warung nasi tersebut, nade masuk dengan badan yang menggigil, memesan sepiring nasi dan beberapa lauk, mengambil dompet di saku celana yang basah, dompet kulit buatan pengrajin rupanya menyelamatkan semua isi dompet, selembaran uang tidak terlalu basah, pada akhirnya nade mulai menyantap makanan yang didominasi oleh bahan dari cabe dan rempah-rempah.

Tidak bisa makan dengan terburu-buru, sebab akan mengakibatkan tersendak, perut harus menyesuaikan dengan apa yang dimakan, apalagi seharian belum terisi, fatal akibatnya jika makan terlalu lahap, makan dengan tempo perlahan, seiring waktu makanan yang ada di depan pandangan nade habis, tersisa hanya tulang belulang dari ikan yang hidup di air tawar, butuh waktu setengah jam untuk menghabiskan itu semua, nade bisa bersendawa, tidak terlalu terdengar, suara hujan lebih nyaring.

Setelah menghabiskan makanan, nade baru minum, sebab tidak terbiasa makan sambil minum, harus terpisah, teringat kembali sehabis makan, biasanya mengobrol dengan keluarga, dan kini nade hanya menguping obrolan dari meja sebelah, obrolan tentang rencana malam tahun baru, nade hanya tertawa di hati kecilnya, semoga hujan seharian, tidak mengapa nade hanya berharap seperti orang di ujung sana yang sedang malamun, lantai di warung nasi tergenang oleh air, beberapa diantaranya terbawa oleh air yang mengendap di baju nade.

Lalu nade teringat oleh suasana rumah yang hangat, pikirnya terlalu naif jika memikirkan perkataan bapaknya, mungkin ada benarnya, nade saja yang tidak bisa menerima kenyataan, jangan terlalu diambil hati, sebab nade tidak mau mendengar perkataan hatinya yang terdengar oleh pendengaran yang tajam, di luar masih saja hujan, tanpa pikir panjang nade pergi meninggalkan rumah makan tersebut dan kembali ke tempat lamunannya.

Berjalan dengan penuh rasa gemberi, sudah tidak terdengar lagi suara perutnya, hanya ada suara rintik-rintik hujan dan mobil yang melaju degan pelan di jalan utama, perjalanan menuju kosan terasa cepat berbanding terbalik dengan keberangkatan, memang sudah seperti itu layaknya, waktu pulang lebih cepat dari waktu berangkat, melihat hal yang sama terasa singkat, wajar saja beberapa orang mengatakat “hidup ini singkat”, sebab mereka melakukan hal yang sama setiap harinya, terbunuh oleh waktu.

Pada akhirnya nade mengikuti kata hati, untuk makan, dan sampai di kosan, nade kembali seperti biasanya melamun sambil bersandar di tembok, hari masih panjang untuk melamun, beberapa jam lagi malam akan datang, nade masih berharap semoga hujan turun sampai tahun depan, dan orang di ujung sana masih berharap hal yang sama, melamun di penghujung tahun adalah kegiatan nade dan orang di ujung sana.


Melewati malam pergantian tahun dengan kegiatan yang membosankan, tidak ada perayaan, atau harapan yang tidak pernah terwujud setiap tahunnya, dan membuat harapan baru, terus menerus berulang, apa itu resolusi, daftar bualan yang tidak pernah dilakukan, hanya menjadi omong kosong di awal tahun, hujan masih turun di malam pergantian tahun, tidak begitu deras, hanya rintik-rintik dan angin yang lumayan kencang.

Di belahan dunia, sudut-sudut kota besar, meski diguyur hujan, kembang api dan riuh manusia di pinggiran jalan, membuat suasan yang dingin menjadi hangat, beberapa orang tidak merayakan, lebih memilih tidur terlelap, seolah-olah tidak mengetahui tentang apapun, tidak ada hari yang istimewah semuanya sama saja di mata sebagian orang, mereka yang memilih mengakhawatirkan hari esok, sesuatu yang sudah terjadi selalu membawa tidurnya tidak lelap.

Seorang perempuan di persimpangan jalan, memegang kembang api dengan mimik wajah yang datar, teman-temannya bersemangat menyalakan kembang api ke ujung langit, besok libur, tidak perlu ada yang dirisaukan, harapan yang belum tercapai, mungkin akan terwujud di tahun ini, menyantap cemilan sampai larut malam, dan menikmati waktu, seakan malam ini begitu panjang, tetapi perempuan itu masih saja memasang muka yang datar, semuanya sama saja hanya ada gemerlap yang sebentar lagi padam, pagi buta datang sebentar lagi, dan kita semua akan lupa tentang harapan yang pernah terlintas, kembali pada rutinitas yang sama.

Pagi menjelang, mata masih terasa perih, tidak ada salahnya terlelap kembali, tidak ada kegiatan yang harus diselesaikan, sebelum menyadari akan rutinitas, perempuan itu mencoba menutup mata ketika matahari mulai terlihat, dalam sekejap matahari tertutup awan hitam, diberitakan di beberapa daerah banjir datang dengan tiba-tiba, bukan karena tiba-tiba, manusia yang merencanakanya bahwa banjir akan menjumpai ke bumi, dengan cara menebang pohon secara serampangan, membuang sampah sembarangan, dan memenuhi lahan kosong.

Terbangun, perempuan itu menyadari sudah hampir malam, jam menunjukan setengah enam, kepala sedikit pusing, tidur tanpa mengalami mimpi cukup menyenangkan, waktu terasa lebih cepat, tidak dihabiskan oleh mimpi yang tidak masuk akal, perempuan itu mencari segelas air minum, tennggorokannya kering, tidur lebih dari delapan jam cukup membuat kepala menjadi pening, teman-temannya suda baangun terebih dahulu, hanya ada soda, air mineral tidak tersedia, perempuan itu meminum, berharap tenggorokannya basah.

Sugguh sore ini terasa seperti pagi, tidak banya manusia yang melakukan aktifitas, memang tidak ada hujan hanya gerimis kecil, perempuan itu melangkah keluar untuk membeli air mineral, melangkah di tahun baru tidak banyak yang berubah, mugkin harapan temannya sudah mulai pudar, bangun pagi adalah harapan pagi temannya yang selalu bangun siang, nyatanya dia bangun di pertengahan sore, dan perempua itu tidak menemukan warung yang terbuka tirainya, tersesat rupanya.

Baru teringat bahwa perempuan itu tidak tidur di rumahnya, melainkan di rumah seseorang yang sudah lama ia kenal, jalanan gang terasa asing, tiga puluh meter biasanya ada warung, tetapi hanya ada pembuangan sampah, dia pun kembali ke rumah, dan menanyakan apakah ada air mineral, hanya butuh melangkah ke area belakang rumah, ditemui dapur yang menyidiakan air minum dan makanan yang melimpah, bangun di sore hari membuat perempuan itu kehilangan kesadaran.

Setelah minum beberapa gelas, tenggorokan basah, sedikit demi sedikit rasa sakit di kepala hilang, malam datang, perempuan itu tidak ada niatan untuk pulang ke rumah, menginap di rumah temannya pilihan cukup baik, libur masih tersisa, dan suasana rumah semakin sepi setelah kepergian kedua orang tuanya, hanya ada dia dan kakak, kakaknya pun pasti tidak ada di rumah, sudah terbiasa hidup dengan kesendirian, mengobrol dengan beberapa teman mungkin bisa menghalau rasa sepi.

Meninggalkan atau ditinggalkan adalah proses agar terus hidup di hari esok, yang tersisa hanya kenangan, waktu tidak pernah berhenti berputar, hanya kita yang diam di tempat, perempuan itu melihat sekitaran halaman rumah, dan matahari terbenam tanpa disadari keberadaannya, malam datang, senyi kembali berjumpa, ada beberapa orang di rumah temannya, hanya menonton acara di televisi yang setiap tahunnya diulang.

Suasana di ruang tamu cukup ramai, perempuan itu beranjak dari ruang tamu dan menuju teras depan rumah, melihat ke atas langit, tidak ada bintang malam ini, hanya langit yang gelap, dan lampu yang berkedip, entah itu pesawat atau alien sedang tersesat, perempuan itu tidak perlu ambil pusing, menarik nafas dalam-dalam, terbayang tentang seseorang di ujung sana, entah itu siapa, hanya terlintas sejekap di pikiran perempuan itu.

Perempuan itu kembali ke masuk ke rumah, melihat sekeliling ada banyak foto terpajang di sela-sela tembok, teringat di rumahnya hanya ada kalender dengan foto model perempuan, dan tulisan nama grosir dekat rumahnya, tidak terlalu banyak foto kenangan yang terpajang di tembok, perempuan itu sudah lama kesepian sejak kecil, menuju ruang tamu, temannya masih asik menonton film, perempuan itu menghampiri, mencoba menipis sepi dengan mengobrol tentang segala hal.

Malam kali ini perbeda dengan malam sebelumnya, tidak ada riuh manusia, atau suara kembang api, tetapi perempuan itu tidak lagi bermuka datar, rupanya mimik wajahnya menahan lapar, sebagai seorang teman yang baik dan juga tuan rumah, temannya menawarkan makanan yang masih tersisa di dapur, perempuan itu makan dengan lahap, bukan karena makanannya enak tetapi banyak orang yang makan bersama di meja makan kali ini.

Perempuan itu sangat jarang malan di rumah, sebab dapur rumahnya selalu kosong, dan seorang kakak tidak pernah masak untuknya, sepasang kakak adik yang selalu makan di luar rumah, bahkan meja makan yang terbuat dari kayu jati terbaik dengan ukiran yang menawan kini sudah berdebu dan banyak serangga yang hidup diantara sela-sela meja makan.

Makan malam bersama adalah salah satu hal yang tidak pernah dilakukan oleh perempuan tersebut, baru kali ini dia makan dengan wajah yang tersenyum, kadang nasi sering jatuh dari mulutnya, bahagia yang tidak terbendung tergambar di wajahnya, temannya merasa iba.

“jika lapar nanti ke rumah tante aja, banyak makanan yang tersisa”

seorang paruh baya berbicara dengan wajah yang bersinar.

Secara tidak sadar, perempuan itu tersendak mendengar perkataan wanita paruh baya, berkata dengan penuh cinta, hal yang membuat kesal adalah ketika makan lalu minum, maka tidak bisa melanjutkan makan, perempuan itu menarik nafas dalam-dalam, dan menolak himbauan temannya untuk minum, sebab dia tahu kalau minum maka menikmati makan malam kali ini akan berakhir.

Makan dengan berlahan dan menikmati momen pada saat ini, tidak ada yang istimewah, hanya makanan yang dia sering jumpai di warung makan, entah mengapa rasanya begitu nikmat, hampir setengah jam, perempuan itu baru bisa menghabiskan makanan yang ada di depan mata.

Akhirnya perempuan itu bisa minum dengan nyaman setelah menghabiskan makanan, semua orang yang ada di ruang makan belum beranjak pergi, perbincangan di meja makan membuat perempuan itu tidak mau mengakhiri momen kali ini, rasanya ingin hidup di meja makan, mengobrol apa saja yang bisa diperbincangkan.

Semakin malam, perbincangan di meja makan pun selesai sudah, perempuan itu bergabung dengan temannya untuk menonton film yang masih saja diulang, manusia memang sering memutar kembali hal yang disukai, entah itu lagu, film, atau buku, tidak pernah bosan, ketika bosan mencari hal yang baru, ketika selesai maka akan kembali dengan hal paling disukai.

Sudah tengah malam, perempuan itu sudah dipastikan tidak bisa tidur, sebab sudah banyak waktu tidur yang dia rampas tadi pagi, beranjak ke teras rumah, semuanya hening hanya ada beberapa suara serangga yang mulai bekerja di malam hari, perempuan itu mulai melamun sambil bersandar di tembok dekat teras rumah mulai memikirkan seseorang di ujung sana.

Malam semakin dingin, sunyi nan sepi, akan tetapi suara nyamuk di telinga perempuan itu sangat mengganggu, dan bekas gigitan nyamuk tampak meluas di permukaan kulit, akhirnya memilih untuk mengakhiri lamunan malam ini dan beranjak masuk ke rumah, mencoba untuk tertidur, namun hal yang dipaksakan tidak selalu berjalan dengan lancar.

Seiring berjalannya waktu, perempuan itu mulai memejamkan mata, satu harapan sebelum tidur, perempuan itu memohon agar tidak bermimpi, karena harapan jarang sekali terwujud, tidur akan datang dengan mimpi yang belum terbayangkan sebelumnya.

Berjalan di ruangan kosong, melihat sekeliling tidak ada yang bisa dilihat, selain kekosongan itu sendiri, perempuan itu terus berjalan di dalam mimpinya, perjalanan tanpa tujuan, tidak ada ujung yang terlihat, tidak ada arah petunjuk, yang bisa dilakukan adalah terus berjalan, membosankan namun perempuan itu terus berjalan.

Menagis dalam mimpi adalah hal yang konyol, perempuan itu terus berjalan, tidak ada yang mengetahui dengan pasti sudah berpa kilometer yang ditempuh, perempuan itu meminta tolong agar terbangun dari mimpi yang menyiksa ini, sialnya, perempuan itu terus saja berjalan, tidak ada yang mendengar ketika berteriak dalam mimpi, tidak ada yang mendengar.

Terdengar suara temannya, mulai terlihat titik hitam kecil diantara kekosongan yang semuanya berwarna putih,

“tolong bangunkan saya!”

teriak dalam mimpi perempuan itu, malam sudah berlalu, dan pagi pun sudah berlalu bersama dengan harapan sebagian orang yang sirna, temannya melihat perempuan itu tertidur pulas, tidak tega rasanya membangunkan.

Ada yang pengganjal penglihatan temannya, perempuan itu tertidur pulas dengan keadaan badan penuh dengan keringat, padahal udara pagi ini cukup dingin, dan matahari belum terlihat walau siang sebentar lagi datang.

“tolong sekali lagi, bangunkan saya!”

perempuan itu berteriak dalam mimpinya dan masih terus berjalan.

Seorang wanita paruh baya datang menghampiri dan menyuruh semua orang yang ada di rumah untuk makan, lantas seorang teman dengan perasaan yang tidak enak membangukan perempuan itu, terbangun dengan nafas yang tersegas-gesa seperti ayam yang hendak disembelih oleh pemiliknya karena tidak ada lagi uang yang tersisa, terpaksa harus menyembelih ayam kesayangannya.

Menarik nafas dalam-dalam, sebagai teman yang baik, membawakan segelas air untuk perempuan itu,

“mimpi apa kamu sampai keringetan?”

temannya bertanya dengan basa-basi.

“biasa mimpi ditagih hutang”

perempuan itu menjawab dengan datar, beranjak dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi seluruh badan.

Setelah membersihkan badan, wanita itu mulai bisa tersenyum kembali, mengingat sarapan pagi di meja makan bersama, ajakan dari wanita paruh baya dia adalah ibu dari temannya, kadang perempuan itu merasa iri dengan temannya, masih mempunyai seorang ibu, tidak perlu bersedih lagi cukup berjalan dalam kekosangan membuat kering kerongkongan.

Menyantap makanan yang tersedia di meja, perempuan itu kegirangan tidak sabar untuk menghabiskan makanan lalu mengobrol dengan temannya dan wanita paruh baya sehabis makan, nasi kuning, telor dan beberapa macam gorengan serta sambal, mewarnai pagi yang masih saja gelap tertutup awan hitam.

Obrolan diakhiri oleh perempuan itu mengajukan diri untuk mencuci piring bekas sarapan, tanpa ada persetujuan, perempuan itu mengambil piring dan mencuci, libur tahun baru hanya beberapa hari tidak seperti libur orang pengangguran, dan perempuan itu harus kembali ke rumah asalnya, sebelum pulang wanita paruh baya memberi makanan untuk bekal, perempuan itu menerima dengan sangat senang.

Perjalanan pulang membawa kenangan, perempuan itu hanya bisa berharap kakaknya sudah ada di rumah dan bisa makan bersama di meja makan, setelah sampai rumah tidak ada orang, baru disadari kakaknya sudah memberi pesan yang dikirim lewat pesan instan, sirna sudah hal yang terbayangkan oleh perempuan itu.

Siang sudah menjadi malam, perempuan itu menghangatkan makanan pemberian wanita paruh baya, dan mulai makan dengan kesendirian di meja makan yang berdebu dan dihuni oleh berbagai macam serangga, sehabis makan perempuan itu beranjak ker teras rumah, duduk bersandar di tembok dan mulai melamun tentang segala hal yang ada di kepalanya, lalu terlintas tentang seseorang di ujung sana.

“apakah ada orang yang sama melakukan kegiatan seperti saya”,

perempuan itu berkata dengan dirinya sendiri.

Malam pergantian tahun sudah berlalu, nade bangun dari tidur di awal tahun yang masih mendung, tidurnya tadi malam sangat nyenyak, selain perut yang terisi dan makanan hasil olahan warung makan sangat lezat, namun sehabis bagun tidur sisa makanan di dalam perut ingin dikeluarkan, untungnya kamar mandi kosong tidak perlu mengantri, sebab rasa buang air besar sudah di penghujung.

Buang air besar dengan lancar di pagi hari adalah cita-cita nade setahun belakangan, selain bangun tidur selalu kesiangan dan juga perut yang tidak terisi sebelum tidur, mengakibatkan impian untuk buang air besar di pagi hari tidak pernah terwujud, mengikuti kata hati bisa mewujudkan impian nade di awal tahun ini.

Entah kapan lagi nade mendengarkan kata hatinya, pendengarannya sangat jelas tetapi suara hari jarang sekali bisa didengar oleh indra penderangan nade, butuh situasi dan kondisi terteentu agar semuany bisa dilakukan, udara yang dingin membuat nade enggak untuk mengambi air yang ada di bak mandi, butuh waktu lama nade akhirnya mengambil air di bak.

Terpikirkan untuk pergi mencari sarapan di pagi ini, sambil menuntaskan buang air besar nade melamunkan sarapan yang enak disekitaran gang tempat tinggalnya, lamunan itu buyar, ada suara orang yang mengganggu kegiatan buang air besar pagi ini.

“siapa di dalam, cepetan!”

seseorang mengetuk pintu kamar mandi sambil bergumam, seakan-akan waktu untuk hidup sebentar lagi.

Nade beranjak dari kamar mandi, cukup lama nade manghabiskan waktu hanya untuk buang air besar, sesuai lamunannya, nade singgah ke kamar untuk mengambil jaket dan juga dompet, berjalan menelusuri gang mencari sarapan yang paling enak diciptakan di bumi, hampir semua gang sudah dilalui, namun tidak ada yang mengundang selera makan.

3 tanggapan pada “(Cerpen) Makan Bersama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *