Aroma Buku Baru dan Rasa Lapar

Gelas kotor adalah pemandangan sehari-hari yang terlihat di kandang babi, mereka mencuci perabotan ketika hendak di gunakan, jika tidak parabotan terpajang dari ruang tengah hingga ruang belakang dalam keadaan kotor, bukan tanpa alasan agar lebih memudahkan dalam mencuci parabotan, bisa disebut sebuah seni atau dekorasi ruangan, mereka menyebutnya seperti itu, sekali lagi bukan karena malas, perlu diingat mereka tidak malas, kalau saja malas mereka mungkin sudah mati termakan serangga yang kelaparan, bukti yang sah adalah mereka masih hidup dan masih memperjuangkan hidupnya.

Mona beranjak pergi menuju kamar, lalu kembali lagi ke ruang tengah, tangan kanan membawa sesuatu di sebelah kanan, “ini buku bagus, baru saja ku beli!”, mona memamerkan sebuah buku yang tidak begitu asing oleh penghuni kandang babi, buku karangan penulis terkenal dalam bidang sastra dan sejarah, tebal dan masih tercium bau lem yang menandakan buku tersebut masih baru.
Halaman demi halaman oleh mona dibuka begitu cepat, rupanya dia ingin menyombongkan diri, sisa uang kiriman yang seharusnya untuk makan sehari-hari, oleh mona dihabiskan untuk membeli sebuah buku yang lumayan mahal, buku tersebut mempunyai empat seri atau lebih dikenal dengan tetralogi, mona mulai menceritakan isi buku tersebut secara singkat dan tidak terlalu jelas, sehingga penghuni kandang babi hanya mengangguk-ngagguk agar mengerti apa yang dibicarakan oleh mona.

Baca Juga:  Musim Menangkap Capung

Buku ini menceritakan tentang perjuangan salah satu orang yang memperjuangkan kemerdekaan pada penutup abad, dimana kecerahan di negara yang sekarang mereka duduki merdeka, ceritanya sedikit pilu, hanya pada bagian awal saja menyenangkan sealnjutnya, kesengsaraan yang menyelimuti keempat bukunya, sungguh sangat menarik untuk mona dibaca pada hari-hari berikutnya.

Suasana terpecahkan ketika lapig bertanya kepada mona, “dari mana kau bisa tahu isi ceritanya sedangkan kau belum membacanya?”, mona menjawab dengan nada yang bijaksana seperti imam sedang berkhotbah, “sebelum membeli aku minta diceritakan oleh penjual buku ini.”, lapig muak dengan gaya bicara mona yang terlalu bijaksana, akhirnya nade mencoba ingin meminjam buku tersebut dari mona, “mon, pinjam bukunya!”, mona langsung menjawab, “tidak bisa, entar kau dengarkan saja akan ku ceritakan kalau sudah rampung membeca buku ini,” lapig meraih buku tersebut dari mona dan mulai membaca sinopsis yang berada di belakang cover buku.

Semuanya itu terjadi begitu saja tanpa siapapun yang meminta, mona mempertegas pernyataannya dengan menyebut, “hidup itu aneh”, lapig membalas, “bagaimana kalau saja adam tidak membuat kesalahan memakan buah quldi dengan hawa, akan hambar rasanya jika sekarang kita berada di surga tidak ada peperangan dan kedamaian, kebaikan dan keburukan, mungkin akan bosan dan memilih tidak dihidupkan”. Lapig menghirup napas dalam-dalam setelah itu mencoba mengambil air mineral agar peredaran darah ke otak lancar.

Baca Juga:  (Cerpen) Makan Bersama

Kembali nade membuat suasanan semakin panas, “bagaimana denga orang-orang yang selalu mendambakan surga, jika surga itu hambar?”, lapig menjawab dengan enteng, “itu orang yang sudah bosan hidup di dunia.” Lalu mona kali ini setuju dengan pernyataan lapig, “itu orang aneh”, mona membalas pernyataan oleh sang moderator, suasana kembali tentram.

Mungkin adam hawa dengan sadar memakan buah quldi karena bosan berada di surga, nade membuat pernyataan yang membuat mereka sedikit menyunggingkan bibir, menandakan sedikit tertawa, mereka berdiskusi tiada henti hingga perut mereka mengeluarkan suara yang mengganggu, mengantri untuk meminum air mineral sebanyak-banyaknya, malam sudah terlalu malam, jam menunjukan dini hari, setelah selesai minum mereka bertiga tidur di ruang tengah, hingga lupa caranya makan mungkin besok bisa berjumpa dengan kata yang disebut “makan” oleh kamus besar bahasa indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *