Beranda » Cerita Pendek » 2020

2020

  • by
  • 3 min read

Tidak ada yang berubah semuanya sama saja di mata seorang lapig, masih saja mencari secangkir kopi di pagi hari, menikmati sisa-sisa makanan bekas semalam, tidak ada yang dicari selain udara yang cukup sejuk dan beberapa kicauan tetangga yang masih saja mengeluh soal beberapa harga pokok mulai naik, dan juga kekurangan air di musim penghujan adalah hal yang mengerikan selain dari jeritan pemilik tempat kontrakan.

Pagi ini di tahun kabisat, lapig duduk termenung di depan kontrakan kandang babi, melihat hanya beberapa orang lewat, tidak begitu ramai, lapig mulai berjalan kaki menuju jalan raya, dan tetap saja hanya ada segelintir kendaraan yang melintas, Hujan yang terus turun sejak tadi magrib hingga subuh, tetap saja ada orang yang menyalakan kembang api di tengah rintik hujan, sungguh bodoh dalam hati lapig, karena lapig cukup terganggu oleh suara berisik dari kembang api, modolnya menjadi tidak khusu di malam pergantian tahun.

Foto oleh it’s me neosiam dari Pexels

Langkah kaki lapig berhenti di persimpangan jalan, ada ibu-ibu sudah paruh baya menjual makanan dan minuman hangat, tanpa pikir panjang, lapig menuju tempat tersebut, sambil meraba kantong celana, apakah masih ada uang, ternyata ada lipatan, lapig berpikir positif bahwa hal itu adalah selembaran uang yang cukup untuk membeli nasi kuning dan teh hangat ibu-ibu tersebut.

Hanya ada lapig dan ibu tersebut di persimpangan jalan, kebanyakan orang masih tertidur lelap karena hari libur dan udara yang mendukung untuk melakukan kegiatan tidur, lapig memesan dua bungkus nasi kuning, dan tiga gorengan berbagai macam jenis, tidak lupa teh hangat yang tidak ada rasa manisnya meski sudah dikasih gula dua sendok, jangan tanya kenapa, sebab gelas yang dipakai adalah gelas yang dipakai untuk meminum beer.

Duduk berdua bersama ibu penjual nasi kuning, lapig mulai sedikit demi sedikit melahap apa yang ada di depan mata sambil sesekali menengok ke arah jalan, akibat suara kendaraan yang mengeluarkan suara mengganggu, *treng neng treng numpak rx king”, kurang lebih suaranya mirip lagu koplo.

Melihat ibu penjual nasi kuning, lapig jadi teringat ibunya yang berada di rumah, wajah keriputnya mengingatkan dengan beliau, akhirnya lapig memeluk ibu tersebut dan mencium kedua tangannya lalu ibu tersebut memarahi lapig, lapig lari terbirit-birit sebab ibu tersebut melempar air cucian piring kotor, dan lapig kabur tanpa membayar nasi kuning, gorengan tiga dan teh hangat yang tidak manis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *